Politik

Alumni Pasca Sarjana UI Serukan Kemajuan Indonesia

JAKARTA, LIP12 – Alumni pacasarjana Universitas Indonesia (UI) menyampaikan seruan untuk kemajuan Indonesia ke depan.

Menurut mereka dalam Pemilihan Umum (Pemilu) yang dilaksanakan secara serentak pada tahun 2019 adalah kali pertama dalam sejarah demokrasi dan ketatanegaraan Indonesia.

“Penyelenggara Pemilu serentak harus memastikan bahwa hak suara warga negara Indonesia yang merupakan hak konstitusional tidak pernah boleh diciderai, dimanipulasi, apalagi dihilangkan sekalipun oleh prosedur administratif,” demikian rilis yang diterima di Jakarta, Selasa (16/4/2019).

Penyelenggara Pemilu harus mampu mengatasi setiap gangguan, baik yang berupa insinuasi, intimidasi, sabotase, maupun pendelegitimasian proses dan hasil pemilu oleh pihak manapun.

Menurut para penyeru, penyelenggara wajib bersikap tegas menindak setiap gangguan dengan memberdayakan Sentra Gakkumdu Polri.

Lebih lanjut, bahkan apabila gangguan tersebut sudah bereskalasi mengganggu keamanan, mengancam kerukunan, dan keutuhan bangsa, penyelenggara Pemilu dan Polri perlu segera meminta peran aktif TNI.

Pemilih diserukan untuk hadir di TPS guna memenuhi hak politiknya secara langsung, umum, bebas, dan rahasia dalam suasana damai dan gembira.

Dengan pemenuhan seruan ini, berarti kita telah mampu menyuguhkan pesta demokrasi terbesar di dunia. Pesta pemilu serentak yang dapat menjadi contoh, serta rujukan yang baik tentang proses berdemokrasi bagi berbagai bangsa di dunia.

Hal tersebut adalah garis perjuangan segenap alumni UI yang terhimpun dalam Fokus Wacana UI yang didasari oleh kaidah, bahwa pelayanan terbaik bagi pemilih merupakan tugas pemerintahan yang efektif.

Pihaknya optimistis para pemangku kepentingan pemilu serentak diantaranya, pemilih, yang dipilih, dan penyelenggara pemilihan akan mengkhidmati “Seruan Kemajuan Indonesia”.

Sehingga capaian kemajuan yang telah dicapai sebelumnya akan semakin diperkuat oleh hasil Pemilu serentak 2019.

Dengan demikian, kita semakin dekat kepada cita-cita kemerdekaan Indonesia yang sempurna.

Mereka yang bersepakat pada Fokus Wacana UI adalah, Dhia Prekasha Yoedha, Bob Randilawe, Agust Shalahuddin, Satrio Arismunandar, Budi Arie Setiadi, Hamdi Moeloek, Andi Wijayanto, Hadidjoyo Nitimihardjo, Fajari Iriani Sophiaan, Firdaus Baderi, Edy Kuscahyanto, Hanibal Hamidi.

Selanjutnya, Nanny Zainuddin, Silmiyati Zurlen, Hadiah Herawati, Indra Iskandar, Antonius D.R. Manurung, Victor M. Sophiaan, Sayed Tengku Junadi Rizaldy, Asvi Warman Adam, Rahmat Bahari, Bahrul Alam B, Sri Wrinarti, M Fadjroel Rachman, Zastrouw Al-Ngatawi, Siti Nur Aulia Djatnika, Arif Ilyas Noer, Tika Bisono, Bagus Satriyanto, Agnes Poerbasari, Connie Rahakundini Bakrie, Soekotjo Soeparto, Wawan Fachruddin.

Johannes A.A. Rumeser, Juri Ardiantoro, Yosephine Sri Sutanti, E Sulistyaning Tyas, Jibenk Wijayanti, Handoko F. Zainsam, Bayu Winarno, Etty Setiastuty, Hamdion Nizar, Frederikus Fios, Indra C. Situmeang, Evita Ayunita, dan Masmimar Mangiang.

(Deva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *